AISYIYAH Sidrap Lakukan Gerebek TB

oleh -

Metrolacak.com – Latar belakang Tuberkulosis (TBC) merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia terutama negara-negara yang sedang berkembang. Menurut laporan WHO Global Report tahun 2018, pada tahun 2017 Indonesia menempati urutan ke-2 terbesar di dunia sebagai penyumbang penderita TBC setelah India. Penyakit TBC di Indonesia sampai saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang belum dapat diatasi.
Sesuai Strategi Nasional (STRANAS) TBC, mencantumkan visi: “Indonesia bebas Tuberkulosis dengan tujuan tidak ada kematian, penyakit dan penderitaan yang disebabkan oleh Tuberkulosis”. Visi ini memperjelas bahwa tujuan strategi nasional adalah untuk mengeliminasi TBC hingga zero case. Akan tetapi berdasarkan laporan WHO yaitu Global TBC Report Tahun 2018. Dari laporan tersebut diketahui insiden TBC 2017 sebanyak 842.000 kasus dengan mortalitas TBC 107.000 kasus1. Sementara kasus yang ternotifikasi sepanjang 2017 yaitu 446.732 kasus. Kasus TBC yang ditemukan di Indonesia baru sekitar 53%, sisanya 47% kasus masih belum diobati atau sudah diobati tetapi belum tercatat oleh program. Penderita TBC yang belum ditemukan dapat menjadi sumber penularan TBC di masyarakat. Ditambah dengan muncul tantangan baru bagi pengendalian TBC, misalnya ko-infeksi TBC-HIV, TBC resistan obat (TBC-RO), TBC kormobid, TBC pada anak dan tantangan lain dengan tingkat kompleksitas yang makin tinggi.
Peringatan TB Day sedunia diperingati setiap tanggal 24 Maret. Peringatan ini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat secara luas agar peduli dan mengambil bagian terhadap masalah TBC. Bagi Community TBC Care ‘Aisyiyah, peringatan Hari TB Se-dunia ini menjadi momen untuk menata perjalanan program setahun kedepan. Hari TBC Se-Dunia tahun ini adalah tahun ke-10 perjalanan program sebagai Principal Recipient.
Community TBC Care ‘Aisyiyah Kabupaten sidrap dituntut untuk mampu menjadi agen penggerak untuk mendapatkan atau menggalang dukungan yang lebih luas dari berbagai pihak untuk mendorong pendanaan lokal dalam pencapaian penanggulangan TBC di Indonesia. Apalagi saat ini, masalah TBC-MDR, TBC-HIV juga TBC Diabetes menjadi ancaman pada upaya mengurangi penyebaran dan kematian akibat TBC.

Oleh karenanya peringatan TB day 2019 kali ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat keyakinan masyarakat bahwa ‘Aisyiyah dan para mitra yang terlibat dalam Community TBC-HIV care ‘Aisyiyah adalah organisasi yang mampu menjadi organisasi penggerak dalam mengentaskan masalah di masyarakat. (Salfiah Sanusi Koordinator SSR ‘Aisyiyah Kab Sidrap)
Untuk itu guna menurunkan insiden dan kematian akibat TBC di Indonesia dibutuhkan komitmen kuat dari semua pihak untuk melaksanakan program TBC. Melalui event peringatan TB Day tahun 2019 ini mendorong semua komponen masyarakat untuk melakukan akselerasi program untuk menemukan insiden TBC sehingga target eliminasi TBC tahun 2030 bisa terwujud.
GEREBEK TB adalah suatu kegiatan kunjungan rumah yang dilakukan oleh tenaga kesehatan/kader TBC terlatih untuk memberikan edukasi mengenai TBC dan penyakit lainnya sekaligus melakukan skrining/penapisan gejala TBC dan skrining kesehatan lainnya seperti kesehatan ibu dan anak, imunisasi, gizi, PHBS pada semua anggota keluarga yang ditemui saat itu. Jika dari hasil skrining/penapisan ditemukan gejala TBC (1 gejala utama TBC dan/atau minimal 2 gejala lain) maka akan diberikan surat rujukan untuk periksa dahak di Fasyankes terdekat.
Selain itu juga dilakukan pemantauan kondisi lingkungan fisik rumah seperti pencahayaan, ventilasi udara, penggunaan sarana air bersih dan penggunaan jamban.

Sasaran GEREBEK TB adalah:
1. Penemuan pada kontak erat dan kontak serumah pasien TBC, minimal 10 sampai 15 orang. Kontak erat adalah mereka yang tidak tinggal serumah namun dalam aktifitas sehari-hari berada dalam ruang yang sama dengan penderita TBC dalam kurun waktu 3 bulan terakhir. Kontak serumah adalah apabila ada yang tinggal satu rumah dengan penderita TBC minimal 1 malam dalam kurun waktu 3 bulan terakhir (WHO).
2. Semua anak yang berusia di bawah 15 tahun yang merupakan kontak erat maupun kontak serumah harus dirujuk ke puskesmas walaupun tidak bergejala.
3. Semua orang dengan Diabetes Melitus, orang dengan HIV/AIDS, lansia (usia 60 tahun ke atas), dan gizi buruk yang merupakan kontak erat maupun kontak serumah harus dirujuk ke puskesmas walaupun tidak bergejala.
4. Masyarakat yang berada di wilayah berisiko seperti perumahan kumuh dan padat, pondok pesantren, lapas, tempat kerja, panti sosial, asrama, dan lain-lain.

Pelaksanaan kegiatan GEREBEK TB dilaksanakan oleh kader dan tenaga kesehatan
Indikator keberhasilan kegiatan :
• Jumlah indeks kasus yang dilakukan kontak investigasi
• Jumlah orang yang diedukasi informasi TBC dan diskrining
• Jumlah terduga TBC yang ditemukan dan dirujuk ke fasyankes
• Jumlah kontak anak yang dirujuk ke fasyankes
• Jumlah terduga TBC yang melakukan tes dahak di Puskesmas
• Jumlah semua kasus TBC yang ditemukan dalam kegiatan GEREBEK TB,(dis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *